Label

Tampilkan postingan dengan label Tentang Kami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2012

Jejak Imam dari Wolowaru

Jejak Imam dari Paroki HAK Wolowaru

Chris Djoka Ringgi Sengga


Tahun 1937 menjadi tonggak awal berdirinya Gereja Paroki HAK Wolowaru. Dibawah komando Pater Mathias Naus, SVD (1939-1955), sejarah dan benih iman Katolik ditaburkan. Dengan bentuan serta peran para Mosa Laki serta tokoh-tokoh berpengaruh kala itu, sebuah bangunan megah bergaya Gothic berdiri, tepat ditengah perkampungan Wolowaru antara Lisedetu dan Bokasape.

Tahun 1937, selain menjadi tonggak awal perjalanan Gereja Katholik di Wolowaru, juga telah menjadi awal tumbuh suburnya benih iman Katholik bagi para umatnya. Gereja Wolowaru, yang tersebar pada 15 lingkungan dengan jumlah umat saat ini mencapai 8.738 jiwa dalam 1.078 KK, kini juga telah menghasilkan beberapa orang biarawan dan biarawati (imam dan suster) yang bertugas di tanah Flores maupun diluar Flores.

Imam dari Wolowaru.

Seorang putra sulung telah lahir. Demikianlah ungkapan yang muncul kala seorang umat dari Paroki HAK Wolowaru siap ditabhiskan. Sebuah gambaran dari suasana haru yang luar biasa seolah masih membekas dan terpatri dalam hati seluruh umat paroki. 

Ribuan umat dari seluruh wilayah paroki seolah tidak ingin melewatkannya. Ya. Pada akhir dekade 80-an, seorang imam baru, yang juga menjadi putra sulung (imam pertama) telah lahir dari rahim Paroki HAK Wolowaru. Sebuah masa yang cukup lama, sebuah masa penantian sejak akhir dekade 1930-an, kini terjawab, melalui seorang umat bernama Rm. Mathias Sala Rawa, Pr.

Umat dari seluruh paroki, dengan ragam perannya, turut serta dan terlibat aktif dalam berbagai persiapan menuju Kaul Imamat Rm. Thias, demikian biasa disapa. Bertempat di Lapangan Sepakbola Wolowaru, pada sebuah Replika Sa’o Ria yang sengaja dibangun pada sisi utara lapangan tersebut, dilaksanakan kaul imamat bagi Romo Thias, Pr. Oleh Uskup Agung Ende kala itu (Alm. Mgr. Donatus Djagom, SVD).

Ribuan umat dari wilayah paroki, dan beberapa paroki sekitarnya tumpah ruah memenuhi lapangan bola tersebut. Tidak ketinggalan pula, para saudara umat Muslim disekitar Wolowaru juga secara bersama terlibat untuk mensukseskan acara tersebut, termasuk anak-anak sekolah, dari SD hingga SMA.


Imam pertama yang sekaligus putra sulung para imam dari paroki Wolowaru telah lahir dalam diri Romo Mathias Sala Rawa, Pr, bersamaan dengan kaul imamatnya. Benih-benih imamat yang telah tumbuh tersebut, akhirnya juga terus bertumbuh hingga kini.

Selang beberapa tahun kemudian, kembali lahir dari rahim paroki Wolowaru. Pater Thomas, SVD, menjadi imam kedua dari paroki ini. Tidak cukup sampai disini, demikian sebuah kalimat bijak yang sering kita dengar. Pasca kedua imam tersebut, akhirnya kembali lahir imam-imam lain, diantaranya dalam diri Pater Eman Wero, SVD, Rm. Endi Sengga, Pr, Rm. Yance Sengga, Pr, dan terakhir Pater Cornelis.

Jejak imamat yang terus bertumbuh tersebut kini menunggu masa tuaiannya. Beberapa umat paroki yang saat ini masih mendalami studinya di seminari tinggi juga seolah menunggu waktu menuju kaul imamatnya. Doa seluruh umat, tentunya wajib kita daraskan, agar benih-benih panggilan yang telah ada melalui diri para imam yang telah ditabhiskan maupun yang sedang dalam perjalanan menuju imamatnya tetap terpelihara dan tidak padam.

Gereja HAK Wolowaru, yang saat ini sedang memasuki masa penantian menuju pesta intannya, seakan menjadi saksi sejarah bagi tumbuhnya benih iman di Wolowaru.

Kini, paroki yang dipimpin oleh Pater Vinsent Juja, SVD, tersebut terus berbenah, sekaligus terus menyuarakan panggilan kepada seluruh umat paroki, agar kelak, semakin banyak imam yang dapat lahir dari rahim paroki Wolowaru, serta sekaligus menjadi perwarta Kristus yang tangguh dimanapun mereka bertugas.

Selamat menunaikan tugas kepada para imam dari Paroki Wolowaru, semoga Tuhan selalu memberkati. 

Selasa, 31 Januari 2012

Jejak Langkah Para Misionaris di Wolowaru_Ende_Flores_NTT

Jejak Langkah Karya Para Misionaris di Wolowaru
Bagian-1.
oleh: chris djoka ringgi sengga


Paroki HAK Wolowaru, Ende, Flores, NTT, mengarungi masa-masa awal dengan spirit dan penuh perjuangan. Jumlah umat pada masa awal yang masih sangat sedikit membutuhkan sebuah perjuangan tersendiri untuk menjadikan Wolowaru sebagai salah satu basis perkembangan Gereja Katholik di tanah Lio.

Sebagai sebuah stasi dari Paroki Maria Imaculata Jopu yang berjarak sekitar 4 km, keberadaan umat di Wolowaru menjadi sebuah tantangan terpisah dalam rangka mendekatkan sentuhan-sentuhan kasih untuk mengobarkan kabar sukacita sekaligus sebagai pewarta Kristus.

Letak Wolowaru yang sangat strategis dan menjadi salah satu jalur perlintasan utama di Pulau Flores menjadi sebuah pemikiran pokok bagi para misionaris awal kala itu, untuk menjadikan Wolowaru sebagai salah satu basis utama pengembangan iman.

Dukungan pada masa awal yang juga sangat luar biasa melalui peran para Mosa Laki membawa umat pada sebuah situasi dan kebutuhan yang sama dan kemudian secara bersama-sama dengan Misionaris mendorong sebuah upaya untuk melaksanakan pembangunan sebuah “Rumah Tuhan” dalam wujud bangunan gereja.

Semangat umat pada masa-masa awal yang sangat luar biasa akhirnya terwujud dengan berdirinya sebuah bangunan megah bergaya Gothic pada tahun 1937 dalam wudud Gereja Wolowaru. Sebuah gedung gereja yang dalam kondisi kekinian benar-benar direncanakan secara matang, bukan hanya untuk menyesuaikan kondisi umat pada masa itu, tetapi juga benar-benar memperhatikan aspek jangka panjang. Sebagai bukti nyata adalah terkait dengan kapasitas gereja yang mampu menampung umat dalam jumlah besar.

Pater Mathias Naus, SVD, yang dilahirkan pada tanggal 13 Maret 1901 menjadi arsitek sekaligus peletak dasar dalam kehidupan menggereja di Wolowaru. Kebersamaannya bersama umat pada masa awal serta dengan dukungan dan peran dari para Mosa Laki, sebuah bangunan fenomenal sekaligus monumental kala itu dapat berdiri tegak yang terus bertahan hingga kini.

Dengan berdirinya bangunan Gereja Wolowaru pada tahun 1937, tentu sebuah harapan besar juga pantas dimunculkan, bahwa Wolowaru yang pada masa itu juga merupakan pusat dari Kerajaan Lio tentunya perlu meningkat statusnya, bukan pada tataran stasi lagi, tetapi meningkat menjadi sebuah paroki mandiri dan terpisah dari paroki induk.

Tidak perlu menunggu waktu lama, setelah dua tahun berdirinya Gereja Wolowaru, terbitlah keputusan untuk meningkatkan status stasi menjadi paroki, sehingga pada tahun 1939 secara resmi ditetapkan Paroki HAK Wolowaru menjadi paroki mandiri dan terpisah dari Paroki Santa Maria Imakulata Jopu sebagai paroki induk.

Dengan ditetapkannya Paroki HAK Wolowaru, maka ditetapkan pula Pater Mathias Naus, SVD, sebagai pastor paroki pertama untuk menjadi gembala umat yang tersebar di berbagai pelosok seperti yang ada saat ini.

Sebagai pastor pembangun dan pastor pertama yang menjadi gembala umat di Wolowaru, Pater Naus (demikian biasa disapa umat pada masa itu), menjadi pastor terlama yang memimpin Paroki HAK Wolowaru, terhitung sejak tahun 1939 s/d 1955.

Selama 16 tahun Pater Naus, SVD, memimpin paroki yang sekaligus menjadi gembala terlama dalam memimpin Paroki Wolowaru, berbagai hal telah banyak dilakukannya, tidak hanya dalam tugas pokok dalam pelayanan pastoral, tetapi juga merambah kepada beberapa aspek lainnya diantaranya adalah pendidikan, hingga selama masa kepemimpinannya, Pater Naus, SVD, telah pula membantu menjadikan Wolowaru sebagai salah satu basis pendidikan Katholik, yaitu dengan berdirinya SDK Wolowaru II pada tahun 1947, serta SMP Katholik Wolowaru di tahun 1955, yang sekaligus juga menjadi akhir perjalanannya dalam memimpin umat di Wolowaru.

Pada tahun 1955, Paroki HAK Wolowaru mendapatkan gembala baru dalam diri Pater Anton Bakker, SVD, sebagai pastor kedua, yang sekaligus melanjutkan karya dan misi pastoral yang fondasinya telah diletakan oleh Pater Naus, SVD. Kini, Pastor Pembangun itu telah tiada, pada tanggal 26 Juni 1992, beliau berpulang ke Rumah Bapa-Nya di Surga untuk bersatu dalam kegembiraan surga bersama Kristus.

Pasca Pater Naus, SVD, Peran dan Misi perutusan dilanjutkan oleh Pater Antoon Baker. Masa penggembalan Pater Baker di Wolowaru dilalui dengan singkat atau hanya 3 tahun. Pastor kelahiran 14 September 1910 akhirnya melanjutkan karya Misi ditempat lainnya, dimana pada tahun 1958, beliau digantikan oleh Pater Marinus S. Kroll, SVD.

Pater Kroll, SVD (1 Juli 1922 - 13 juli 2009), demikian biasa beliau disapa umat, menjadi pastor ketiga sekaligus pastor keenam bagi Paroki HAK Wolowaru. Masa kepemimpinan beliau dilalui sebanyak 2 kali, yaitu pada tahun 1958 s/d 1963 (selama 5 tahun).

Selanjutnya karya pastoral diteruskan oleh Pater Emil Cernay, SVD (Cernaj-dalam ejaan Slovakia), terhitung tahun 1964 hingga tahun 1968. Pastor kelahiran Slovakia pada tanggal 1 Pebruari 1923 tersebut sebelum meninggalnya pada tanggal 1 Pebruari 2000, sempat menuliskan sepucuk surat dan memuji Alm. Uskup Gabriel Manek, SVD, sebagai seorang yang 100% Katholik dan 100% Indonesia.

Setelah Pater Cernay, SVD, berpindah tugas pada tahun 1968, kepemimpinan Paroki Wolowaru dilanjutkan dan diemban oleh Pater Raymond Lobato, SVD, tetapi beliau hanya mendampingi umat selama 1 tahun, yaitu pada tahun 1968 – 1969.

Tugas memimpin Paroki HAK Wolowaru pasca Pater Lobato, SVD, akhirnya kembali dilanjutkan oleh Pater Kroll, SVD, mulai tahun 1969 hingga tahun 1979. Apabila dihitung masa memimpin umat di Wolowaru, Pater Kroll, SVD, menjadi pastor kedua terlama setelah Pater Naus, SVD (P. Naus selama 16 tahun), yaitu selama 15 tahun.

Kehadiran para misionaris asing dari Eropa, telah memberikan kesan dan warna tersendiri bagi perkembangan Gereja Katolik di Paroki HAK Wolowaru. Berbagai kemajuan telah dicapai, tidak hanya dalam pembangunan iman umat, tetapi juga pembangunan dalam beragam aspek lainnya, dan pada tahun 1979 menjadi akhir dari perjalanan para misionaris asing di paroki tersebut, sekaligus menjadi tonggak awal dalam pewartaan Kasih Kristus oleh para misionaris pribumi. Kiprah awal para misionaris lokalpun dimulai pada tahun 1979, dimana peran pastor paroki berpindah, dari sebelumnya Pater Kroll, SVD, ke pundak pemimpin baru bernama Pater Hendrikus R. Manuk, SVD.

Pater Hendrik, SVD, selain sebagai seorang misionaris, juga telah menanamkan kesan tersendiri bagi para generasi muda di sekitar Wolowaru, karena beliau ternyata memiliki skill lain, yaitu bermain sepak bola. Masa peralihan dari para misionaris Eropa ke misionaris pribumi tersebut berhasil dilalui dengan cukup mulus dan tanpa kendala berarti. Kesiapan iman maupun mental umat yang telah bertumbuh dengan baik menjadi salah satu aspek pendukung utama selama masa peralihan tersebut.

Selama 6 tahun terhitung sejak tahun 1979 hingga 1985, Pater Hendrik, SVD, menjadi nahkoda utama bagi Paroki Wolowaru. Beragam hal, telah pula dilakukan oleh beliau selama masa-masa kepemimpinannya, sehingga akhirnya, sesuai dengan keputusan Gereja, pada tahun 1985, melalui perayaan perpisahan meriah dan diiringi dengan tangisan sedih dan haru, umat akhirnya harus rela melepas kepergian Pater Hendrik, SVD, menuju tanah misi yang baru, tepatnya di Sintang, Kalimantan Barat, sebuah daerah misi di Bumi Borneo yang juga memiliki tantangan teramat luar biasa.

Bersamaan dengan kepergian Pater Hendrik, SVD, yang merupakan pastor paroki ketujuh bagi Paroki HAK Wolowaru, umat paroki menyambut kedatangan pastor paroki yang baru, yang merupakan imam keuskupan bernama Romo Egidius Parera, Pr.

Sebagai pastor paroki kedelapan, Rm. Egi, demikian beliau akrab dipanggil umat, berkarya selama 3 tahun, yaitu sejak serah terima pastor paroki dari tangan Pater Hendrik, SVD, pada tahun 1985 hingga kemudian digantikan oleh Pater Joachim Werang, SVD, pada tahun 1989.

Setelah sempat dipimpin imam keuskupan selama 3 tahun, Paroki HAK Wolowaru kembali dipimpin imam dari misionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah (SVD), dalam diri Pater Joachim Werang, SVD. Selama 9 tahun, Pater Joachim, yang oleh umat setempat biasa dipanggil Bapak Tua, juga meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi seluruh umat paroki. Usianya yang telah paruh baya saat menggembang misi perutusan di Wolowaru, seolah tidak berarti apa-apa bagi beliau untuk menempuh kerasnya medan penggembalaan dalam wilayah paroki.

Kepemimpinan beliau berakhir pada tahun 1998, seiring dengan keluarnya keputusan untuk memimpin Paroki Detusoko, sehingga sebagai penerus, ditunjuk Pater Yan Hambur, SVD, untuk melanjutkan karya pewartaan Kristus di Bumi Wolowaru dan sekitarnya.

Selama 13 tahun, Pater Yan, SVD, menjadi gembala bagi umat di Wolowaru. Seperti halnya Pater Joachim, SVD (alm), dalam usia yang tidak muda lagi, beliau dengan penuh semangat dalam sebuah spirit pelayanan yang total, terus melanjutkan karya para pastor dan misionaris yang telah diletakan sejak awal perjalanan gereja di Wolowaru.
Pater Yan Hambur, SVD (1998-2011)
Pater Yan, SVD, sebagai gembala umat, telah menorehkan sejarah tersendiri dan menjadi pastor ketiga terlama setelah Pater Naus, SVD (16 tahun) , dan Pater Kroll, SVD (15 tahun), dalam memimpin Paroki Wolowaru. Usia yang tidak muda lagi ternyata menjadi akhir perjalanan pelayanannya bagi seluruh umat Wolowaru, sehingga pada periode Desember 2011, beliau mengakhiri masa penggembalaannya dan memasuki masa purna tugas (pensiun).

Dengan berakhirnya masa tugas Pater Yan, SVD, memunculkan beragam pertanyaan dari seluruh umat paroki, siapa kiranya yang akan memimpin Paroki HAK Wolowaru selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, karena kepastiannya masih menunggu keputusan resmi dari Uskup Agung Ende, yang akhirnya bertepatan dengan perayaan Misa Natal kedua tanggal 26 Desember 2011, Bapa Uskup Agung Ende sudi hadir ditengah umat Wolowaru untuk menyampaikan kabar gembira yang lain, terkait dengan penerus dari Pater Yan Hambur, SVD.

Dalam salah satu pengantarnya, Uskup Agung Ende, yang mulia Mgr. Vincensius Poto Koto, menyampaikan bahwa sudah saatnya, umat Paroki Wolowaru dipimpin oleh para pastor yang usianya lebih muda dari para pastor sebelumnya, dan kemudian menetapkan Pater Vincent B. Juja, SVD, dipilih dan ditetapkan sebagai Pastor Paroki Wolowaru yang baru.

Akhirnya, bertepatan dengan Perayaan Misa Peringatan St. Arnoldus Jansen, pendiri Serikat Sabda Allah (SVD), Uskup Agung Ende melalui Romo Vikep Ende, melantik Pater Vincen Burhan Juja, SVD, untuk menjadi Pastor Paroki terhitung sejak tahun 2012.

Pater Vincent B. Juja, SVD, menjadi pastor paroki kesebelas, juga seorang pastor muda yang ramah, kini memikul sebuah tanggung jawab besar, untuk melayani lebih dari 8.000 umat atau sekitar 1.000-an lebih KK yang tersebar pada 15 lingkungan dalam seluruh wilayah paroki.

Selamat menjalan karya pastoral Pater Vincent, semoga Tuhan memberkati dan Paroki HAK Wolowaru semakin maju serta kokoh dalam menghadapi arus zaman....... (chris djoka ringgi sengga)

(bersambung..........)






Minggu, 29 Januari 2012

Mengenal Paroki HAK Wolowaru..........

oleh: chris djoka ringgi sengga


Menengok eksistensi Paroki Hati Amat Kudus (HAK) Wolowaru, tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran umat sejak awal berdirinya Gereja serta paroki tersebut.
Gereja HAK Wolowaru (Des_2011)
Terletak di Pusat Kecamatan Wolowaru, dan berjarak sekitar 64 km dari pusat Kabupaten Ende, serta sektiar 70 km dari Pusat Keuskupan Agung Ende, Paroki HAK Wolowaru kini menatap hari untuk menyongsong masa menuju Pesta Intan. Sebuah pertanda, bahwa gereja dan paroki tersebut telah memasuki usia yang tidak muda lagi.
Selama 75 tahun menjalankan karya pelayan pastoral di Wolowaru dan sekitarnya, Paroki HAK Wolowaru, juga telah berperan besar dalam memajukan Wolowaru dalam berbagai aspek, dan lebih khusus lagi terkait dengan aspek pembangunan imat umat.
Menyongsong 75 tahun paroki, alangkah eloknya kalau kita juga kembali melihat kebelakang, untuk menapaktilasi sebuah perjalanan panjang kehadiran Paroki HAK Wolowaru, yang tentunya tidak terlepas juga dari beragam tantangan yang dihadapi, terutama pelayanan awal bagi kehidupan iman umat yang berada pada daerah pedalaman yang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pastor yang berkarya.
Beragam medan berbahaya, tentunya menjadi sebuah “santapan” serta menu harian bagi para pembawa kabar gembira diawal perjalanan paroki. Sebelum adanya akses yang “lumayan” memadai seperti saat ini, pelayanan kepada umat di pelosok dan pedalaman tentu sangatlah sulit.
Medan berat pegunungan dan jurang serta ngarai, harus dilalui. Sebuah tantangan yang mau tidak mau mesti dilalui, karena kondisi topografi wilayah yang mayoritas berupa pegunungan, dan satunya-satunya yang bisa ditempuh hanyalah dengan berjalan kaki atau menggunakan kuda.
Aksesibilitas pada awal pelayanan hanya berupa jalan trans Flores yang berdasarkan sejarahnya telah terbangun sejak tahun 1929, sedangkan untuk menuju stasi-stasi di pedalaman hanya mengandalkan jalan setapak atau jalur tradisional yang biasa dilewati masyarakat pada masa  itu.
Tahun 1937, merupakan tonggak awal berdirinya Gereja HAK Wolowaru. Seorang pastor misionaris SVD dari Belanda, menjadikan Wolowaru masuk dalam lembaran sejarah Gereja Flores. Bahu membahu, bersama dengan para umat di masa-masa awal, Gereja HAK Wolowaru akhirnya berdiri dengan megahnya.
Menelisik kondisi dan situasi saat ini, dapatlah dibayangkan betapa luar biasanya perjuangan pastor dan seluruh umat kala itu, yang sejak awal merintis hingga terbangunnya sebuah bangunan megah dengan gaya khas Gothic yang diusungnya telah mencerminkan sebuah kebersamaan yang luar biasa yang dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua..... umat saat ini.
Tonggak awal telah berdiri, dalam bentuk sebuah bangunan megah bergaya Gothic bernama Gereja Katholik Wolowaru. Sebuah gereja dengan dengan jumlah umat yang tentunya juga masih sedikit, pada masa itu bergabung dalam sebuah Paroki Maria Imacullata Jopu yang berjarak sekitar 4 km.
Sebuah mimpi untuk menjadi paroki tersendiri akhirnya terjawab, dimana pada tahun 1939, terbitlah sebuah keputusan berupa pemekaran stasi Wolowaru untuk kemudian menjadi sebuah paroki tersendiri.
Kini, setelah hampir 75 tahun keberadaan Paroki HAK Wolowaru, jumlah umat telah meningkat pesat, dan berdatarkan data paroki, hingga tahun 2011, jumlah umat mencapai 8.738 jiwa yang terdiri dari 1.078 KK. Jumlah yang tidak sedikit dan tentunya menjadi tantangan bagi seluruh umat dalam mempertahankan serta meningkatkan karya dan pelayanan di masa kini dan masa depan.
Jumlah umat diatas, tersebar dalam 15 lingkungan, dengan sebaran wilayah diantaranya adalah Wolowaru, Wolosoko, Wololele A & B, Detupau, Oka dan sekitarnya, hingga ke Wolofeo dan Wolosambi yang berbatasan langsung dengan paroki Moni.
Sebaran wilayah tersebut juga memiliki karakteristik tersendiri, terutama yang terkait dengan kondisi dan aksesibilitasnya, dimana ada lingkungan yang dapat dicapai dengan mudah, tetapi juga masih ada lingkungan yang cukup sulit untuk mencapainya dalam kondisi-kondisi tertentu, dan sebagai contohnya misalnya untuk mencapai lingkungan Wololele A, pastor Paroki harus melalui kampung Wolosoko, dan selanjutnya berjalan kaki menuju Wololele A. Walaupun telah memiliki akses jalan, tetapi kembali, pada kondisi-kondisi tertentu juga cukup sulit dilalui.
Paroki HAK Wolowaru, dengan ragam kondisinya, telah memberika warna tersendiri bagi perkembangan Wolowaru, dimana harapan bahwa kehadiran gereja tidak hanya membawa kabar gembira/suka cita, tetapi juga membawa nuansa lain yang akhirnya semakin memperkaya kita, untuk meneruskan jejak langkah yang telah terpatri pada masa awal eksistensi Paroki HAK Wolowaru menuju masa depan.

Selasa, 25 Oktober 2011

Paroki HAK Wolowaru_Ende_NTT_Indonesia

Paroki HAK Wolowaru terletak di Kampung Napuwaka, Desa Lisedetu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menara Hati Kudus Yesus

Paroki tersebut telah berdiri sejak tahun 1937 dan saat ini telah berumur 74 tahun. Diusia yang tidak lagi mudah, banyak harapan yang membuncah, agar Gereja Paroki mendapatkan sentuhan-sentuhan perbaikan, sekaligus mempercantik "penampilan"nya.

Jalan Trans Flores di depan Gereja
Letaknya yang langsung berada di tepi jalan Trans Flores memudahkan kita untuk mengakses gereja tersebut. Dalam Kompleks Paroki HAK Wolowaru, terdapat beberapa bangunan lainnya (selain gereja), diantaranya adalah Pastoran disamping kiri gereja, Menara Hati Kudus Yesus (samping kanan depan), gedung paroki di samping kiri belakang yang dibelakangnya terdapat asrama putra.
Gereja Paroki

Selain itu, masih pada lokasi yang sama, sekitar 100 meter dari gereja, terdapat sebuah SMP Katholik yang berada di bawah Yaperlio, dan tidak jauh dari SMPK, terdapat sebuah usaha penggilingan padi milik paroki.

Gereja Paroki
Pada samping kanan gereja, terdapat lokasi Biara Susteran CIJ yang mengusung karya di bidang pendidikan, dengan SDK Wolowaru II di seberang susteran serta Rumah Makan Bethania sebagai sebuah badan usaha lain bagi para suster.

Paroki HAK Wolowaru, seperti mayoritas paroki lainnya di beberapa daerah di Flores, rata-rata telah berusia tua, dimana akan berumur 75 tahun pada 2012 yang akan datang.

Lukisan Tua diatas Altar
 Selama masa tersebut diatas, telah pula dihasilkan beberapa imam yang kini bertugas di beberapa paroki di Flores dan luar Flores. Kita berharap, semoga dengan semakin bertambahnya umur, juga semakin menumbuhkan benih-benih panggilan untuk mengikuti Jalan Yesus.